![]() |
| sumber gambar : dgi-indonesia.com |
Ketika aku termenung, tiba-tiba pintu kamar kostku terbuka. Sahabatku muncul. Ia heran ketika aku tengah bersiap-siap. Mungkin ia tidak percaya.
“Kamu yakin?” tanyanya.
“Haqqul yaqin!”
“Jangan nekad begitu,” teriaknya.
“Sesekali perlu. Kalau tidak nekad, kita tidak akan pernah menjadi apa-apa.”
“Jangan sok!”
“Harus! Aku harus sok! Aku harus nekad!”
“Tapi ini membahayakan jiwamu.”
“Berdiam diri di rumah pun sebenarnya membahayakan jiwa,” elakku.
“Tapi menyelesaikan masalah bukan dengan cara kekerasan ‘kan?”

