Rabu, 19 November 2014

Duniaku Makin Senyap


Beberapa waktu lalu, aku bermaksud menemui seorang teman di rumahnya. Dan niat itu terwujud dengan cepat karena aku bertemu dengannya dalam perjalanan. Ia pun hendak pulang dari suatu bepergian jarak dekat.

Tidak lama kami sampai di rumah sederhana beliau. Di sana, di depan rumah sederhana keluarga itu, dua orang anak lelaki berusia belasan tahun sedang duduk-duduk tanpa suara. Tangan mereka masing-masing memegang ponsel. Jemari mereka pun menari-nari di atas keypad . Entah sedang membuat sandek ataukah menjelajah beberapa fitur yang berada di sana, aku tidak tahu. Yang jelas mereka asyik melakukan hal itu ditemani suara musik yang keluar dari salah satu perangkat canggih itu.

Aku duduk di luar. Aku duduk di hadapan mereka. Meski begitu aku dapat melihat ke dalam rumah. Di sana, di ruang tengah ruangan sederhana itu satu unit televisi sedang on. Tapi sesekali pindah channel. Tampaknya seseorang yang berada di balik dinding itulah sebagai penyebabnya. Layar televisi berwarna itu berubah-ubah tidak karuan. Mungkin acaranya tidak ada yang menarik untuk ditonton. Lama aku terdiam. Lama aku berada dalam kondisi seperti itu. Aku pun tidak berinisiatif untuk sekedar berbasa basi dengan anak laki-laki yang sedang asyik itu. Ada rasa segan yang menyusup dalam kalbu. Takut dianggap mengganggu aktivitas mereka.

Selasa, 18 November 2014

Secuil Mimpi yang Maujud






Ketika berada di awal usia dua puluhan, aku pernah bermimpi untuk menjadi seorang penulis. Pada awalnya aku tidak tahu kenapa ingin menjadi seperti itu. Mungkin karena bangga saja jika karya kita diapresiasi, buah pikiran kita menggerakkan masyarakat banyak, bahkan menginspirasi dan menjadi buah tutur orang lain. Tapi jujur, cita-cita itu pernah padam begitu saja. Tidak ada kelanjutannya. Karena merasa tidak ada yang membimbing. Organisasi kepenulisan di kotaku tidak aktif. Aku pun bukan berasal dari keluarga penulis. Aku terlahir dari keluarga awam. Bahkan bagi kami, buku tidaklah menjadi salah satu yang nangkring dalam catatan belanja. Ia bisa disebut berada di nomor buntut dalam kehidupan keluarga sederhana kami.
Begitulah, harapan itu pernah terpendam untuk beberapa saat. Hingga sebuah pikiran positif menyeruak: Kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan selama kita berusaha. Sebuah tagline iklan r*k*k mengatakan, “Ada Obsesi Ada Jalan”. Untuk menjadi penulis tidak perlu ada pembimbing. Tidak perlu berasal dari keluarga penulis. Yang paling penting adalah mental juang, semangat berkarya dan motivasi yang kuat. Jika tidak ada yang membimbing, bimbinglah diri sendiri. Jika tidak dilahirkan dari keluarga penulis, ciptakan keluarga penulis sendiri. Itulah pikiran positif yang membakar semangatku. Dan akhirnya aku pun mulai berlatih menulis. Jangan kaget, di sehelai kertas bekas brosur promo sepeda motor yang di baliknya masih kosong! Karena aku tidak mempunyai komputer. Karena aku tidak mempunyai alat tulis lain. Dan hanya itulah yang aku punya.
Lantas bagaimana cara aku menulis? Dan apa yang aku tulis?
Ketika berlatih, aku akan menentukan sebuah benda atau fenomena untuk dijadikan bahan tulisan. Aku akan memperhatikan sekeliling. Melihat alam sekitar. Pokoknya mencermati segala sesuatu yang dapat diinderai. Seekor lalat contohnya. Aku memperhatikan apa yang ia lakukan. Apa yang ia perbuat. Apa yang ia kerjakan. Setelah itu aku menyiapkan hati dan pikiran. Menyiapkan alat tulis. Dan kemudian aku pun menulis. Dan berikut ini hasil tulisanku tentang lalat.

Don't Call Us, Indon!


sumber gambar : dgi-indonesia.com
Aku segera berkemas. Menyiapkan segala keperluan yang aku butuhkan. Memasukkan beberapa barang ke dalam ransel. Sesaat aku berhenti. Aku mengingat-ingat lagi. Adakah barang yang tercecer? Yang ketinggalan? Tampaknya tidak ada. Aku telah menyiapkan semuanya dengan sempurna. Tiada yang aku khilafkan. Termasuk benda yang telah disiapkan dan akan membuatku masuk dalam sejarah itu.

Ketika aku termenung, tiba-tiba pintu kamar kostku terbuka. Sahabatku muncul. Ia heran ketika aku tengah bersiap-siap. Mungkin ia tidak percaya.

“Kamu yakin?” tanyanya.

“Haqqul yaqin!”

“Jangan nekad begitu,” teriaknya.

“Sesekali perlu. Kalau tidak nekad, kita tidak akan pernah menjadi apa-apa.”

“Jangan sok!”

“Harus! Aku harus sok! Aku harus nekad!”

“Tapi ini membahayakan jiwamu.”

“Berdiam diri di rumah pun sebenarnya membahayakan jiwa,” elakku.

“Tapi menyelesaikan masalah bukan dengan cara kekerasan ‘kan?”

Unreg, Sality, Google


Aku selalu tersenyum ketika ada yang menuliskan unreg ketika memutuskan untuk keluar dari sebuah milis. Itupun diposting ke milis, bukan ke owner. Bahkan di beberapa bagian, ada yang mencak-mencak: JANGAN KIRIMI SAYA E-MAIL! SAYA TELAH MEMUTUSKAN KELUAR!

Tapi senyuman itu, bukan berarti melecehkan. Tapi teringat dengan kekeliruan yang kurang lebih sama meski tidak serupa. Sebagai awam aku pernah mengalaminya. Sebagai manusia yang sedang belajar aku pun pernah melakukan hal itu. Teringat kembali bagaimana aku keluar dari sebuah arena permainan dengan menggunakan jalan –sesungguhnya diperuntukkan- sebagai jalan masuk. Di lain kesempatan, aku malah menerobos masuk karena menganggap besi yang melintang di pintu masuk itu permanen alias tidak dapat digerakkan. Di sebuah komunitas, milis lebih tepatnya, aku pun pernah menanyakan bagaimana solusi dari sebuah permasalahan yang sebenarnya teramat sepele.

“Jangan segan-segan bertanya pada om Google! Ayo, berjuanglah, Kawan!” seorang teman me-reply apa yang aku tanyakan diantara beberapa orang yang memberikan pencerahan. Dari sana aku merasa tersengat. Aku tersadarkan. Aku pun tercerahkan. Aku harus mandiri. Aku harus bertanggungjawab. Aku jangan hanya ingin diberi. (Padalah sejatinya–meski mencari via google pun- sebenarnya aku tidak mandiri hehehe).

Senin, 17 November 2014

Ibuku Binal ...


Kata beberapa teman, ibuku sangatlah jalang. Sundal. Aku pun dijuluki anak haram. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak pernah mendengarkan apa yang mereka katakan. Bukan karena tidak peduli, sebenarnya. Tapi karena memang begitulah kenyataannya. Aku sering melihat ibuku berkasih-kasihan dengan orang lain. Bahkan yang paling edan, ia sering melakukan hal serupa dengan kakakku!

“Kenapa kamu tidak melarangnya melakukan hal itu?” seorang teman mengajakku berbicara.
“Biarlah,” jawabku pendek. “Yang penting jangan denganku.”
“Tapi dia ibumu!”
“Ya, dan aku akan tetap menghormatinya sampai kapanpun.”
“Kalau ibumu seperti, maaf, pelacur itu kamu diam saja?”
“Ya, hal inilah yang aku lakukan. Dan ini menurutku lebih baik.”
“Lebih baik? Katamu lebih baik? Seharusnya kamu menasehatinya. Itu yang dikatakan baik. Bimbing beliau di jalan yang benar.”
“Tapi bagiku ini yang lebih baik. Tahu kenapa?”
“Kenapa?” tanyanya spontan.
“Aku pun sebenarnya sering ditawari …”
“Ditawari apa?”
“Diajak…”
“Diajak apa?” kejarnya.
“Ya, begitulah….”
“Begitulah bagaimana?” tanyanya penasaran.
“Diajak ber-….” Aku akan mengatakan bersetubuh. Tapi aku urungkan. Aku tidak mengatakan hal itu. Aku tidak melanjutkan kata-kataku. Tapi aku yakin ia paham apa yang aku maksud.
“Berse…,” kata-katanya tercekat. Lanjutnya, “Oleh ibumu?”
Aku mengangguk.
“Selanjutnya?”
“Ya, aku kabur. Aku tidak akan pernah menyentuh ibuku sampai kapanpun.”